Jika orang dengan cepat menjadi kebal terhadap efek parah, beberapa mutasi pelindung gagal menyebar – ScienceDaily

Jika orang dengan cepat menjadi kebal terhadap efek parah, beberapa mutasi pelindung gagal menyebar – ScienceDaily


Model komputasi baru menunjukkan bahwa mutasi tertentu yang memblokir infeksi oleh spesies malaria yang paling berbahaya belum menyebar luas pada manusia karena efek parasit pada sistem kekebalan. Bridget Penman dari Universitas Warwick, Inggris, dan Sylvain Gandon dari CNRS dan Universitas Montpellier, Prancis, mempresentasikan temuan ini dalam jurnal akses terbuka PLOS Computational Biology.

Malaria adalah penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan berpotensi mematikan yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium. Beberapa adaptasi protektif terhadap malaria telah menyebar luas di antara manusia, seperti mutasi sel sabit. Eksperimen laboratorium menunjukkan bahwa mutasi tertentu lainnya bisa sangat melindungi terhadap spesies malaria paling berbahaya yang menginfeksi manusia, Plasmodium falciparum. Namun, meski bersifat jinak, mutasi ini belum menyebar luas.

Untuk membantu menjelaskan mengapa beberapa mutasi pelindung mungkin tetap langka, Penman dan rekannya mengembangkan model komputasi yang mensimulasikan epidemiologi infeksi malaria, serta evolusi mutasi pelindung. Yang penting, model ini juga memasukkan mekanisme kekebalan adaptif, di mana sistem kekebalan “belajar” untuk mengenali dan menyerang patogen tertentu, seperti P. falciparum.

Analisis prediksi model menunjukkan bahwa jika orang dengan cepat memperoleh kekebalan adaptif terhadap efek parah malaria P. falciparum, mutasi yang mampu memblokir infeksi P. falciparum tidak mungkin menyebar di antara populasi. Semakin sedikit jumlah infeksi yang dibutuhkan orang untuk menjadi kebal terhadap efek parah malaria, semakin kecil kemungkinan munculnya mutasi penghambat infeksi malaria.

“Memahami mengapa potensi adaptasi malaria pada manusia tidak berhasil sama pentingnya dengan memahami mereka yang berhasil,” kata Penman. “Hasil kami menyoroti perlunya studi genetik lebih rinci dari populasi yang tinggal di daerah yang terkena dampak malaria untuk lebih memahami interaksi manusia-malaria.”

Pada akhirnya, memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan malaria dapat membantu membuka jalan baru untuk pengobatan.

Sumber Cerita:

Materi disediakan oleh PLOS. Catatan: Konten dapat diedit untuk gaya dan panjangnya.

Untuk Informasi Lebih lanjut silahkan Kunjungi : HK Prize

Author Image
adminProzen