Orgasme yang Segera Terjadi Pada Wanita Berhubungan Dengan Kaki Gelisah - ScienceDaily

Studi praklinis menyarankan pendekatan baru untuk mengobati jenis tumor otak – ScienceDaily


Glioma adalah tumor otak umum yang mencakup sekitar sepertiga dari semua kanker sistem saraf. Dalam sebuah studi yang didanai oleh National Institutes of Health (NIH), para peneliti menguji pendekatan pengobatan kombinasi baru pada tikus dengan tumor dengan karakteristik yang mirip dengan astrositoma manusia – sejenis glioma yang tumbuh lambat – dan menemukan regresi tumor pada 60 persen pasien. tikus yang dirawat. Hasil yang menggembirakan ini, diterbitkan di Jurnal Investigasi Klinis, bisa menjadi langkah pertama untuk mengembangkan pengobatan untuk jenis kanker otak ini.

Dipimpin oleh penulis senior Maria Castro, Ph.D. dan Pedro Lowenstein, MD, Ph.D. bersama dengan tim peneliti di University of Michigan Rogel Cancer Centerb di Ann Arbor secara khusus menguji penghambat senyawa D-2-Hydroxyglutarate (D-2-HG), yang diproduksi oleh sel kanker, pada versi tikus pembawa astrositoma. mutasi pada gen IDH1 dan ATRX, bersama dengan bentuk inaktifasi dari gen tumor suppressor protein 53 (TP53).

Ketika tikus yang ditanam dirawat dengan obat untuk memblokir produksi D-2-HG bersama dengan radiasi perawatan standar dan perawatan temozolomide (kemoterapi), kelangsungan hidup mereka meningkat secara signifikan. Melihat lebih dekat pada sel tumor yang tumbuh di piring, para peneliti melihat bahwa memblokir D-2-HG menyebabkan sel menjadi lebih rentan terhadap pengobatan radiasi. Namun, pengobatan juga meningkatkan jumlah protein “pos pemeriksaan kekebalan”, yang digunakan tumor untuk mematikan sel T dan menghindari sistem kekebalan.

Menghambat protein checkpoint imun ini dengan obat tambahan menghasilkan peningkatan daya tahan yang lebih besar, karena sistem kekebalan tikus itu sendiri mampu menyerang tumor.

Yang penting, terapi kombinasi ini juga mengarah pada memori imunologis terhadap glioma, yang berarti bahwa tikus tersebut sekarang memiliki sel T yang disesuaikan dengan tumor tertentu. Karena glioma hampir selalu tumbuh kembali setelah pengobatan, sel T ini membuat hewan lebih siap untuk mencegah pertumbuhan kembali.

Harus ditekankan bahwa percobaan ini dilakukan pada tikus. Meskipun demikian, hasil praklinis yang dihasilkan oleh terapi kombinasi ini dapat mewakili kemajuan kunci dalam mengembangkan rejimen pengobatan yang lebih baik, yang menggabungkan D-2-HG dan penghambatan checkpoint imun, radiasi, dan temozolomide, untuk pasien dengan astrositoma.

Sumber Cerita:

Materi disediakan oleh NIH / National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Catatan: Konten dapat diedit untuk gaya dan panjangnya.

Untuk Informasi Lebih lanjut silahkan Kunjungi : Lagu Togel